Back to browse | Visualization | New search | Cite | Add to list | Ask a librarian/feedback | Help

Semar

Semar adalah seorang dewa, saudara Batara Manikmaya (Guru), anak Sang Hyang Tunggal.

Sang Hyang Tunggal menganggap Semarlah yang tua dan diramalkan, tak akan dapat bergaul dengan para dewa, lalu dititahkan tinggal di dunia ini untuk mengasuh keturuan dewa-dewa yang bersifat manusia. Setelah Semar tinggal di Marcapada (dunia), berubahlah keelokan parasnya menjadi orang yang sangat jelek, segala tanda-tanda kejelekan pada badan manusia terdapat pada Semar, hingga Semar terpandang sebagai orang yang biasa saja.

Semar seorang bersifat sabar, pengasih sayang, tak pernah susah. Tetapi pada waktu marah, tak seorangpun dapat mencegahnya, Dewa-dewa pun dianggapnya di bawah telapak kakinya. Tanda-tanda pada waktu marah, dari mata bercucuran air mata, ingus mengalir dengan deras dan angin ke luar tak henti-hentinya, sambil berteriak-teriak kepada Dewa minta kembali kebagusan rupanya.

Semar bermata rembesan, hidung disebut nyunti (seperti umbi pangkal selderi), hidung itu digambarkan beringus, mata rembes (rejeh), bentuk rembesan, bibir di bawah agak panjang, berjambul, berburut pusat, tangan bergelang, kedua tangannya dapat digerakkan, tetapi tangan itu di belakang. Pantat besar ke belakang.

(Sumber: Sejarah Wayang Purwa. Hardjowirogo. Jakarta: Perpustakaan Perguruan Kementerian P.P. dan K., 1955)

Publisher: Lontar Foundation;

Created: 2014

Source Rights: Ki Purbo Asmoro

Manuscript Code: LF-Semar.sm_P5123496.jpg

Other Views of This Image